Gastronomi Berkelanjutan atau Sustainable Gastronomy

Image by Wilfried Strang from Pixabay

Apa itu Sustainable gastronomy?

Setiap tahunnya, 18 Juni diperingati sebagai Hari Gastronomi Berkelanjutan atau Sustainable Gastronomy Day. Peringatan internasional ini ditetapkan secara resmi oleh Majelis Umum PBB pada 21 Desember 2016 melalui resolusi A/RES/71/246. Berdasarkan resolusi tersebut, gastronomi diakui sebagai ekspresi budaya yang berkaitan dengan keragaman alam dan budaya dunia.1

Gastronomi dapat diartikan sebagai seni, gaya, atau cara memasak makanan dari suatu wilayah. Sedangkan sustainability atau keberlanjutan adalah suatu gagasan bahwa sesuatu, misalnya sistem pertanian, dilakukan tanpa menyia-nyiakan sumber daya alam yang ada dan dapat dilanjutkan di masa depan tanpa merusak lingkungan dan kesehatan. 

Sustainable gastronomy, dengan demikian, merupakan makanan yang dibuat dengan memperhitungkan dari mana bahan bakunya diperoleh, bagaimana cara bahan pangan yang digunakan tumbuh dan diolah, serta cara bahan pangan tersebut didistribusikan ke pasar, hingga akhirnya berada di atas piring kita untuk dikonsumsi.2


 Mengapa sustainable gastronomy penting?

Di tahun 2015, negara-negara anggota PBB berkomitmen untuk mencapai target-target dari tujuan perkembangan berkelanjutan atau sustainable development goals (SDGs) di tahun 2030. Salah satu tujuan global SDGs, yaitu Zero Hunger, memiliki target untuk memberantas kelaparan global dengan menjamin ketersediaan akses untuk memperoleh makanan yang aman, bergizi, dan dengan jumlah yang cukup sepanjang tahun untuk semua orang, serta menghapuskan segala bentuk malnutrisi.3

Lima tahun berlalu sejak dicanangkannya SDGs. Namun, upaya yang telah dilakukan hingga saat ini, nampaknya tidak akan cukup untuk mencapai tujuan Zero Hunger di tahun 2030. Saat ini, diperkirakan sebanyak hampir 690 juta jiwa atau 8,9% populasi dunia mengalami kelaparan. Setiap tahunnya, angka kelaparan diprediksikan meningkat hingga 10 juta jiwa dan dalam lima tahun mendatang bisa mencapai 60 juta jiwa. Jika tren ini berlanjut, jumlah penduduk yang mengalami kelaparan di tahun 2030 bisa mencapai 840 juta jiwa, atau setara 9,8% populasi dunia.

Di tahun 2050, populasi penduduk dunia diperkirakan akan mencapai 9 miliar jiwa. Akan tetapi, sepertiga dari jumlah pangan global yang diproduksi saat ini sering kali terbuang saat proses produksi atau berakhir menjadi limbah pangan. Di samping itu, sumber daya alam yang berperan dalam sistem produksi pangan (contoh: lautan, hutan, dan tanah), sebagian besar diproduksi dengan cara yang tidak berkelanjutan.

Meningkatkan produktivitas pertanian dan sistem produksi pangan secara berkelanjutan, penting untuk memenuhi kebutuhan gizi dan mengurangi tingkat kelaparan penduduk secara global. Melalui sustainable gastronomy, tidak hanya memperoleh makanan yang bergizi, konsumsi pangan lokal juga dapat membantu meningkatkan aktivitas ekonomi di area tersebut, mengurangi emisi karbon yang dihasilkan dalam proses distribusi makanan, serta mempertahankan makanan tradisional sebagai warisan budaya kita.


 Yang bisa kita lakukan untuk mendukung sustainable gastronomy

  1. Dukung petani lokal dengan membeli bahan pangan dari pasar lokal. Beli dari petani atau pedagang kecil untuk membantu mereka memenuhi kebutuhan hidupnya.
  2. Coba pangan lokal saat kamu sedang bepergian ke suatu daerah. Misalnya, coba buah-buahan lokal yang belum pernah kamu temukan sebelumnya. Dengan begitu, kamu bisa mempelajari budaya dan membantu perekonomian di daerah tersebut.
  3. Jaga tradisi kuliner lokal di daerah kamu. Kuliner lokal umumnya dibuat secara berkelanjutan dengan resep dan tradisi turun-temurun. Coba membuat makanan fermentasi tradisional yang berasal dari daerah kamu sendiri, misalnya tape.
  4. Konsumsi buah dan sayur lokal saat musim panen. Beragam jenis buah dan sayur yang diproduksi berdasarkan musim panennya, beragam pula zat gizi yang bisa diperoleh dari pangan tersebut. Konsumsi buah dan sayur saat musim panen juga membantu mengurangi limbah pangan (contoh: buah busuk) yang dihasilkan akibat penyimpanan yang terlalu lama.
  5. Kurangi limbah pangan. Gunakan bahan pangan seperlunya saat memasak. Perhatikan porsi makan, tanggal kadaluarsa, dan manfaatkan kembali makanan jika masih mungkin untuk mengurangi produksi limbah pangan.5

Ditulis oleh Widya Indriani pada 18 Juni 2021

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *